Sudah hampir satu minggu ini hati kita dibuat risau dan bertanya-tanya terhadap sesuatu yang jikalau kita kembalikan lagi ke hati nurani kita, semestinya tidak perlu lagi kita pertanyakan. Hal-hal sederhana semisal membicarakan kekurangan dan kekhilafan seseorang di belakang orang tersebut, tanpa disertai niat baik guna memperindah hubungan antar sesama, agaknya sudah terlanjur dianggap menjadi kecenderungan yang oleh sebagian orang bisa dianggap wajar. Kecenderungan yang keliru semacam ini pula lah yang rupanya telah melegitimasi kita untuk beranggapan ‘sah-sah’ saja dalam membicarakan hal-hal yang sebetulnya sudah dinilai oleh hati kecil kita sebagai sebuah keburukan. Ironi ini tampak sangat jelas ketika dalam beberapa hari ini kita disuguhi berbagai pemberitaan miring mengenai beredarnya video pribadi yang kabarnya merupakan milik salah seorang vokalis Band bersama seorang model papan atas; Ariel dan Luna Maya.
Terlepas dari valid atau tidaknya pemberitaan tersebut, saya begitu menyayangkan sikap dari sebagian pihak yang notabene tidak memiliki keterkaitan dengan persoalan ini, tetapi justru turut serta menyikapinya dengan sudut pandang yang sempit. Padahal, hal-hal (yang menurut saya) insidensial semacam ini bisa menimpa siapa saja, termasuk juga kita. Akan tetapi, kita cenderung begitu mudah menghakimi orang lain, menghukum mereka, dan mengkotak-kotakannya ke dalam sebuah kesimpulan sempit dengan mengacu kepada suatu nilai yang kebenarannya bersifat relatif, tanpa terlebih dahulu melihat duduk persoalannya dari berbagai sisi. Continue reading
