Tagged with Menteri

Tentang Azas Kepatutan dan Kepantasan

Lama aku berdebat dalam hati perihal sesuatu yang banyak orang sebut sebagai azas kepatutan atau kepantasan. Seperti ketika orang nomor satu di sekretariat negara itu mengatakan, bahwa mobil seharga milyaran rupiah untuk para menteri itu adalah sesuatu yang wajar. “Coba saja tengok mobil dinas para Bupati ataupun Walikota, harganya banyak yang melebihi itu, kita tentu melihat dan mempertimbangkan azas-azas kepatutan dan kepantasan,” begitu katanya.

Keparat itu benar. Tentu akan sangat tidak patut jikalau para Bupati dan Walikota memiliki mobil dinas yang lebih bagus dari para Menteri. Karenanya demi menjunjung tinggi azas kepatutan itu, tidak ada salahnya jika negeri ini mengeluarkan puluhan bahkan ratusan milyar rupiah yang dananya berasal dari penjualan Surat Utang Negara, supaya penampilan para Menteri tidak dipandang lebih rendah dari para Bupati dan Walikota. Dan karenanya demi menjunjung tinggi azas kepantasan itu pula, mobil dinas lama para menteri yang masih tampak mewah dan layak pakai itu, menjadi tidak layak atas nama azas-azas itu sendiri.

Satu hal yang mungkin mereka lupakan bahwa, azas kepatutan dan kepantasan yang mereka dengungkan itu justru tidak dihadapkan dengan parameter yang benar-benar patut dan pantas untuk diperbandingkan. Bukankah sepatutnya hal semacam ini disandingkan dulu dengan keadaan masyarakat yang sampai saat ini penghidupannya jauh dari kata patut bahkan pantas? Bayangkan berapa banyak anak putus sekolah, penduduk miskin yang kelaparan, begitu sakit hati mendengar kabar memalukan dan memilukan ini.

Aku terus berdebat dalam hati, dalam perasaan. Tetapi belum sempat kuakhiri perdebatan ini, sayup-sayup mulai terdengar kabar dari para keparat lain di parlemen sana, yang satu per satu mulai menggugat azas kepatutan dan kepantasan itu atas rumah lama mereka, yang konon keadaannya sangat tidak sebanding dengan Istana Ratu Inggris.

Tai kucing!

Tagged , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 104 other followers