Tagged with mbah surip

Surip-isme

Tugas kita, kata Surip – bukanlah untuk mencari-cari cara bagaimana bisa dipandang baik oleh orang lain, melainkan cukup hanya berbuat baik dengan mengesampingkan penilaian orang, itu saja. Seperti ‘filosofi menggendong’ yang kerap ia ajarkan dalam bait-bait lagu yang ia nyanyikan lewat gitar kopongnya itu, bahwa sebetulnya berbuat baik kepada orang lain ternyata tidaklah mahal, keengganan kita-lah yang membuat kita tak menjangkau perbuatan baik.

Surip, seniman berambut gimbal itu, ia bahkan sudah mengukur kepekaan kita (termasuk saya) dengan lagu sederhananya itu jauh sebelum orang mulai terbesit memiliki kesadaran mengenai hakikat diri mereka sendiri. Bukankah sebaik-baiknya seseorang, adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain? Mengapa kita selalu saja mempersulit diri untuk berbuat baik, seolah berbuat baik hanya bisa dilakukan dengan mengeluarkan uang, padahal menggendong pacar yang kakinya lecet karena sepatu high heels saja sudah lebih dari cukup?

Ah, memang dasar si pecandu kopi itu! Dia juga yang meracuni pikiran ini bahwa tak mungkin seseorang bisa bersenang-senang hanya dengan seorang diri. Itulah mengapa ia memilih tak jadi membeli helikopter dari hasil royaltinya, tetapi dihambur-hamburkan begitu saja untuk menyekolahkan anak-anak jalanan di seputaran Blok M dan Bulungan. Itulah mengapa ia memutuskan tak mau menikah lagi, sebab ia tahu betul kekayaan yang dimilikinya saat itu tak akan menjamin perkawinannya bisa bahagia.

Begitulah sosok yang memiliki senyum abadi ini telah banyak mengajarkan saya mengenai nilai-nilai hidup. Dari mulai pentingnya bangun pagi, kesederhanaan, sampai bagaimana menikmati kopi.

* “Baiklah, Mbah. Kau istirahat saja di sana. Tidak usah cemas, sebab pujaan hatimu – Manohara, selalu aman di sampingku.”

Tagged
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 104 other followers