Apakah mungkin isi kepala orang-orang penting itu benar-benar sudah sekotor sungai ciliwung yang airnya keruh menghitam karena pabrik-pabrik disekitarnya “diizinkan” membuang limbahnya? Ataukah mungkin isi hati mereka sudah tertutup asap tebal, setebal asap polusi dari kendaraan yang izin kepemilikannya sengaja dibiarkan tak dibatasi demi pendapatan asli daerah yang nantinya juga akan diuapkan entah ke mana.
Penanganan para anak jalanan hanyalah sebagian kecil dari sekelumit ketidak-becusan orang-orang yang sewaktu pilkada dulu mengaku-ngaku sebagai “ahli” di bidangnya. Dan tampaknya para pejabat yang duduk di balai kota sana justru lebih khawatir dengan masalah larinya para investor berduit dari mega-proyek monorail yang sudah terlanjur dibangun pondasi dan tiangnya, ketimbang harus mengurusi anak-anak terlantar yang mungkin hanya dianggap sebagai beban APBD.
Kita pernah sesekali menyempatkan diri untuk menaruh harap, menitip rasa percaya, bahkan memanjatkan doa bagi mereka yang menjanjikan akan memanusiakan kota yang sudah tidak manusiawi ini. Akan tetapi sepertinya kekuatan doa pun masih terlampau lemah meski untuk sekedar mengetuk pelan hati mereka, hingga banyak harap dan kepercayaan yang mesti hanyut terbawa arus terus-menerus, jauh tergerus sampai ke ujung batas Banjir Kanal Timur yang pengadaan tanahnya masih sengketa menembus.

