Tagged with Jogjakarta

Kota Tua dan Brankas Kecil

Kota tua yang baru saja kau hembuskan aromanya ke paru-paruku tadi, adalah sebuah brankas kecil tempat menyimpan keberdiaman hatiku, supaya ia tetap hangat, tak kuncup dalam kekosongan. Tak usah membicarakan soal taman rekreasi, perpustakaan modern, serta cafe penyedia gadis-gadis cantik. Sebab di sana hanya ada para penjual kue yang sudah tua sekali usianya, mereka yang membagikan senyumnya sebagai bonus kepada para pembeli dari setiap dagangannya yang laku maupun tidak terjual. Juga para penarik becak yang kurus-kurus, yang memasang tarif tak lebih dari harga lima batang kretek yang mereka hisap sebagai ongkos berkeliling di alun-alun. Di sana ramai, tetapi kita nyaris tak bisa menangkap bingar pada telinga kita. Hening seperti dalam mimpi.

Di kota itu, malam berlakon sebagai sebenar-benarnya lakon malam. Tak terlalu banyak lampu menyala yang mengotorinya. Kecuali beberapa lentera mungil yang digantung tepat di atas meja lesehan, tempat orang sejenak menghela nafas, bergurau, serta berkirim surat kepada Tuhan-nya lewat secangkir kopi arang dan sepiring nasi angkringan. Atau ketika keranjang demi keranjang sayur-mayur mulai diantar ke pasar-pasar dari kebun para petani, dan para kuli mulai berebut serta berlarian memikulnya sampai ke lapak-lapak penjual kecil, kau akan segera memahami bahwa, betapa kita digariskan untuk tidak pernah bisa hidup hanya dengan seorang diri. Sebab selalu ada tangan yang mesti kita butuhkan sebagai kawan untuk sekedar berjabatan. Juga sepasang mata yang mesti kita temukan, sebagai teman untuk sekedar bertatapan.

Jika kelak kau memutuskan untuk kembali ke kota itu lain waktu, singgahlah untuk waktu yang sedikit lebih lama lagi. Beri hatimu cukup waktu untuk bisa belajar mengenal serta memahaminya. Ia pasti akan membuatmu jatuh cinta seperti saat pertama kali kau mengenal cinta itu sebagai sesuatu yang putih, polos tanpa embel-embel konsekuensi. Atau barangkali penatmu sudah separah penatku, dan muakmu sudah se-tak tertolong muakku. Maka mungkin kau bisa meninggalkan saja hatimu di sana, berbagi tempat dengan hatiku pada brankas kecil itu, tempat yang menghangatkan hatiku selama ini.

Tagged
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 104 other followers