Di beberapa catatan teman saya di Facebook, ada yang mengidentikkan kata Alay dengan sebuah Band. Saya sebut saja nama bandnya yaitu Kangen Band. Saya jadi tertarik mengulasnya karena Band ini memang cukup nyentrik di mata saya. Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah, hal apakah yang membuat mereka disebut Alay oleh banyak orang? Itu yang ingin saya ketahui.
Kembali ke catatan teman saya, di situ dia menguraikan pendapatnya bahwa gaya rambut laki-laki berponi lempar (polem) lurus ke samping kiri/kanan menutupi hampir seper-tiga wajah adalah Alay. Dan memang dari hampir kesemua personil Band tersebut memiliki gaya rambut seperti demikian. Tetapi yang membuat saya heran, mengapa banyak orang yang tidak sependapat ketika saya katakan bahwa Vino G. Bastian itu adalah Alay? Bukankah gaya rambut Vino juga mirip dengan para personil Kangen Band? Kenapa Kangen Band Alay, sedangkan Vino tidak?
Lalu di sebuah majalah musik ternama yang ulasan-ulasannya dikenal kritis, lagi-lagi band yang sama diidentikkan dengan sebutan Alay. Penulisnya mengasumsikan jenis musik yang mereka (Kangen Band) bawakan sangatlah tidak berkualitas dan cenderung NORAK. Nah, tepat di sebelah kata Norak tadi disertakanlah kata ALAY yang ditujukan langsung kepada Band Pop asal kota Lampung tersebut. Si penulis membandingkan musik Kangen Band dengan salah satu Band besar di negeri ini yaitu Slank, yang menurut dia memiliki musik yang keren dan berkualitas.
Lagi-lagi saya dibuat tak mengerti dengan penjelasan sang penulis, sebab setelah saya mendengarkan berulang-ulang lagu-lagu Kangen Band, saya masih belum menemukan di mana letak ke-Norak-an yang dimaksud. Apakah dari musikalitasnya? Ataukah dari pemilihan lirik di tiap lagu-lagunya? Saya pikir tidak. Mereka membuat musik mereka sesimpel mungkin dengan memadukan pop dengan sedikit nuansa melayu dan oriental yang segar, sehingga meski agak asing, tetapi cukup bisa dinikmati. Lalu dari segi lirik, saya kira lumayan. Mereka berhasil memilih kata yang agak sedikit asing untuk dimasukkan ke dalam sebuah lagu dengan benar. Saya coba membandingkannya dengan beberapa lirik dari lagu Slank yang ternyata setelah saya cermati justru memakai kata-kata yang tidak tepat maknanya. Coba perhatikan lagu mereka yang berjudul “Gosip Jalanan” di situ mereka menyebut anggota DPR bertugas “bikin UUD” Ini jelas keliru. Di SMA saya belajar bahwa DPR itu bertugas merumuskan UU, bukan UUD. Lalu coba perhatikan lagu mereka yang berjudul “Cinta?” lagu tersebut menceritakan seseorang yang kecewa telah disakiti perasaannya, tetapi ada bait yang berbunyi “Kau gak punya IQ… bla bla bla (*saya lupa lanjutannya)” Saya langsung berpikir, apa hubungannya perasaan dengan IQ? Lalu saya berontak dalam hati, astaga! Penulis ini sudah melakukan pembunuhan karakter yang sudah susah payah dibangun oleh si subjek penulisannya.
Dari dua hal yang saya coba bawakan di atas, justru membuat saya semakin sulit memahami mengenai kata ALAY yang sering diartikan orang sebagai Anak Lebay. Karena saya tak kunjung menemukan di mana letak ke-lebay-an yang dimiliki objeknya.
Sekali lagi saya ingin menegaskan bahwa, saya bukan fans Kangen Band, juga bukan kelompok pembenci Slank. Dalam tulisan yang awalnya bermula dari keingin tahuan saya mengenai definisi Alay, saya justru menemukan kenyataan bahwa kata/sebutan Alay itu sendiri sudah menjadi semacam sterotip di tengah-tengah kita semua, yang sampai saat ini belum saya pahami apa yang menjadi parameternya. Saya berkesimpulan bahwa kata Alay hanyalah sebutan yang sengaja dibuat oleh segelintir orang untuk menunjukkan ketidak-setujuan mereka terhadap sesuatu yang dianggap “berbeda” seperti misalnya gaya rambut, penampilan, sampai kepada cara orang lain mengetik pesan.
Sterotip/anggapan semacam inilah yang membuat kita semua menjadi sulit menerima dan menghargai perbedaan sebagai sebuah bentuk keberagaman yang berasal dari Tuhan. Sterotip membuat orang yang mempercayainya terjebak ke dalam pemahaman sempit yang selalu menjustifikasi seseorang dari luarnya saja, bukan dari nilai-nilai yang dimilikinya. Sterotip ini juga yang membuat orang/pihak-pihak yang dilabeli sterotip tadi perlahan menjadi terasingkan.
Bagi saya, adanya sterotip atau sebutan Alay kepada pihak-pihak yang kita anggap ‘aneh’ ataupun ‘norak’ sangatlah tidak fair dan tidak bijak, mengingat kita sendiri kesulitan bahkan tidak mengerti apa itu definisi ‘aneh’ dan bagaimana itu ‘norak’.
Lewat tulisan ini saya ingin mengajak kita semua untuk sebentar saja merenungkan bahwa tanpa kita sadari, kita sering menyakiti perasaan orang lain di sekitar kita hanya karena pemahaman kita yang terlampau sempit dengan hanya menilai seseorang dari satu sudut pandang saja. Dan menurut saya, di dunia ini tidak ada yang namanya Alay dan tidak ada yang bukan Alay. Yang ada hanyalah keberagaman yang membuat hidup ini menjadi tampak indah, harmoni dan terasa lengkap.
