Surat Untuk Afriyani

Dear Neng April,

Besok siang saya kirim 1 Innova, 3 kg shabu, 5 karung ganja & Chivas 10 dus. Tolong Anda ngebut di pelataran gedung DPR selepas bubar rapat paripurna.

Salam 4L4Y!

Tagged

Cerita Teruntuk Bunda

Bertukar cerita dengan ibunda, ibarat secangkir teh di sore hari, ialah kemewahan kecil dalam hidup, yang senantiasa bisa kita jangkaui. Kepadanya lah cinta yang pertama kali kita mengerti, rela kita beri. Di hadapnya lah pertama kali kita ingin berlindung dari ketidak pastian. Rumah pertama kali yang selalu kita ingat untuk kembali. Jalan yang tak pernah lelah kita telusuri.

Kepada engkau yang tersesat sampai ke sini, sampaikanlah kepada bundaku, bahwasannya soreku telah lama tiada. Dan kemewahan kecil telah menjelma jadi semesta yang tak bisa lagi kujangkau. Tetapi aku masih menyimpan ceritaku untuknya. Cerita yang selalu saja ingin kutukar dengan ceritanya.

Namun tak bisa.

Tagged

Ariel – Masa Lalu Yang (Tak Pernah) Tertinggal

Bagi penikmat musik pada umumnya, lagu-lagu yang diciptakan Ariel mungkin terdengar tak ubahnya seperti lagu-lagu lain sejenis, yang kebanyakan hanya mengedepankan aspek komersil supaya laku di pasaran. Tetapi tidak demikian bagi para pemerhati musik, khususnya pecinta lagu-lagu Peterpan sejati. Lagu-lagu Ariel jelas memiliki ‘kelas’ tersendiri yang membuatnya berbeda dengan lagu-lagu kebanyakan. Termasuk bagi saya pribadi, lagu-lagu Ariel selalu berhasil menggelitik benak saya untuk segera mengupas dan menelusuri sesuatu yang boleh jadi tengah berusaha disampaikan Ariel secara tersirat. Terus terang bagi saya, terlalu banyak kebetulan dalam lagu-lagu Ariel yang entah sengaja atau tidak, selalu kait-mengait dengan kehidupan pribadi serta sosok Ariel secara personal.

Bukan tanpa alasan jika saya mengutip salah satu lagu terbaik Ariel, lalu sedikit mengubahnya untuk kemudian dijadikan sebagai judul catatan ini, sebab bukan satu atau dua kali saja Ariel mencoba menyisipkan cerita-cerita yang seolah-olah menggambarkan keadaan di masa lalunya itu ke dalam tiap lagu. Tercatat saya menemukan banyak sekali peristiwa ‘besar’ dalam lagu-lagu Ariel seperti kehilangan, terabaikan, luka, sampai kepada penantian kosong yang berakar di masa lalu. Saya akan mengulas sedikit mengenai lagu-lagu yang Ariel ciptakan, sampai cerita yang ada di baliknya Continue reading

Tagged , , ,

Bersepeda Kita

Mendadak aku ingin bersepeda denganmu
menjelajah kota, dari kekumuhan satu ke kekumuhan lain
di sana, aku yang mengemudikan sepedanya, kau yang memandu arah kita
hingga pada kayuh kesekian
kau katakan kita tak berjalan ke arah ini semestinya

Tetapi aku tak memarahimu,
kita berlalu saja dan mengayuh lebih cepat
sebab memang di sana-lah kita hendak menuju
tersesat selamanya, tak diketemukan hingga pada akhirnya.

Tagged

Sekali Lagi

Di pagi pada jelang tidurmu, aku memeriksa baik-baik perkataan kita, dari satu pesan ke lain pesan kita, dari ketus kalimatmu, gerangan apa yang menyisipi asing di sekelilingnya untuk kukenali?

Arah pembicaraan kita, tangan-tangan kejam siapakah yang menuntunnya hingga berputar-putar, menjauhkan pengertian kita?

Aksen aneh bicaramu, polos sederhana cara berpikirmu, twitter dan orang-orang yang kau ikuti itukah yang telah mengikis segalanya?

Atau barangkali, semua adalah pertanda, supaya kita berpisah sekali lagi, supaya kita bisa saling menemukan sekali lagi?

Tagged

Ketupat-ketupatmu

Ada yang salah dari mimik-gelagatmu, semenjak
pemerintah mengumumkan Idul Fitri harus ditunda satu hari lagi
sore itu, langit Jakarta bak pindah semalaman di wajahmu
masam pada bibirmu.

Aku tahu, opor ayam dan ketupat yang kau tanak seharian
akan mulai bau dan meng-asam di hari yang ketiga
Aku tahu, kue-kue lebaran yang sejak kemarin mati-matian kau hias
akan lekas habis dicemili olehku sebagai teman minum kopi.

Katamu, repot jadinya bila begini
lanjutmu, tak semangat rasanya bila harus berpuasa satu hari lagi
mengapa tanggal 30 buru-buru dicetak merah kalau Idul Fitri belum pasti?
mengapa kita tak ikut aliran lain saja supaya lebaran bisa digelar hari ini?

Tetapi kukatakan untukmu, sayang
tak akan sia-sia bila kita bersabar sedikit lagi saja
mungkin Tuhan tengah ingin menegur kita
tak suka hari suci-Nya disalah artikan sebagai ajang rutin seremonial
serta momentum berfoya-foya dari sudut mal ke mal lain.

Aku akan membangunkanmu sahur nanti malam,
sebagai ganti suara takbir yang kian tenggelam oleh acara televisi
Dan ketupat yang terlanjur ada di meja makan kita itu,
biar aku yang menyuapinya ke bibirmu di saat berbuka puasa nanti.

Tagged

Di Kedai Kopi Tujuan Kita

Gramineae, aku tiba lebih dulu di sebuah kedai kopi yang sudah kita rencanakan pertemuan kita. Di sini, pekat secangkir kopi jadi dua kali lebih menantang. Sebab kopi disajikan panas selepas kita menempuh tiga jam perjalanan dari kereta api yang telah kita tumpangi. Dan dari sini, waktu menjadi lebih mudah dikesampingkan. Karena hampir lima menit sekali, selalu ada lokomotif tua yang langsir ke sana ke mari.

Kapan keretamu tiba? Petang sudah kian menipis oleh temaram lampu-lampu kota. Selepas dari sini, kita mesti bergegas menuju hotel yang belum sama sekali kita pesan kamarnya. Aku tak ingin mengambil resiko bila harus se-kamar denganmu. Sebab kita bisa saja terpejam dan saling membuang muka, tetapi selimut pada ranjang yang kita tempati itu belum tentu mau diajak kompromi berpihak kepada siapa. Dan kita bisa saja berdalih bahwa kebersamaan kita hanyalah kebersamaan pertemanan, yang sengaja dipertemukan Tuhan untuk saling menjaga satu dengan lainnya. Tetapi bukankah AC pada kamar hotel itu selalu lebih dingin dari hangat persahabatan kita?

Ah, Gramineae. Selalu saja ada rindu yang tak bisa kuabaikan dari hati ini. Mungkin sedari awal, semestinya kita tidak berangkat dalam keterpisahan yang demikian. Mungkin seharusnya, aku tak tergesa meninggalkanmu, kau tak terburu menjauhiku. Sebab pada kenyataannya sekarang, aku kian hilang karenamu. Sunyi dalam tiadamu. Sementara sudah cangkir kesekian kuhabiskan kopi dalam menantimu, tak satupun panggilan pada ponselmu bisa kudapatkan jawaban. Kosong.

Kau pasti datang ‘kan?

* Bandung, setahun yang akan datang.

Tagged

Kau dan Selamat Pagi-mu, Cheryl

O, Cheryl
kabar buruk mana lagi yang hendak kau suguhi?
sementara bibir pada cangkirku terlalu pipih
tak cukup besar mewadahi kopi yang kugadang sebagai obat penenang

Tahukah engkau kala kuhirup ‘Selamat Pagi’-mu panjang sekali
ingatanku mendadak putus
lupa pada busuk negeri kita
juga soal presiden yang mirip banci

Ah, mengapa gadis secantik engkau mesti jadi pembawa berita
bukan novelis atau perancang busana saja?
aku gila di pagi hari oleh kata-katamu yang tidak bisa kucerna
sekuat bius kuliah statistika, akal sehatku buyar karenamu

O, Cheryl.
Ada ribuan pasang mata yang geram hatinya
tiap kali kau telanjangi borok serta topengnya pelan-pelan
tak bisakah kau berhenti di sini saja?
sebelum gerak-gerikmu di awasi

Atau barangkali kau sengaja membiarkan bahaya itu menguntitmu,
supaya aku cemas karenamu
tak lekas tergesa menyeruput kopi sebelum melihat wajahmu?

Tagged

Di Kelasmu, Putri

: kepada P.L.

Putri,

Di perkuliahan mana bisa kutemui bahasan yang memaksaku berlutut,
menyerah pada soal psikologi yang tak seberapa,
kecuali pada kelasmu?

Engkau-lah langka sebenarnya
yang lekat selamanya dalam pikiranku.

Kau pelintir keadaan,
hingga pada suatu titik
aku terikat simpul pada tatap matamu.

Kau pencipta jeram
yang menantang nyaliku
supaya lulus dalam ujian-ujianmu.

Aku terlahir sebagai mahasiswa malas
tak pernah ingat kapan harus mengumpulkan tugas
tetapi di kelasmu yang terlalu sebentar itu,
kutemukan secangkir kopi yang menjaga mataku untuk senantiasa mengikutinya.

Putri,

Sekalipun waktu tak menyisakan lagi SKS bagi kita untuk bertemu lagi
sesungguhnya aku selalu berada di kelas-kelasmu
terselip pada tumpukan daftar nilaimu
terdata sebagai mahasiswa abadimu.

Cinta Pertama

Mengapa tak lantas waktu,
membawa serta sorot matamu pulang

Aku hendak sebentar saja mencicipi tenang
yang kuteguk sebagai secangkir kopi

Sebab meski bertahun lewat,
selalu ada air matamu
mengalir dalam nadi bebungaan yang mekar di sana

Sebab meski berlari jauh,
selalu lekat sedu di wajahmu
kala kita berucap pisah

Atau barangkali,
waktu sengaja hanya mengikis yang kecil-kecil saja
tak meniadakan kau-aku, kita

Supaya aku tak sulit mencarimu,
Kau tak lama menantiku

Tagged

Secangkir Puisi

Apa jadinya malam tanpa secangkir kopi?
Tentu ia cuma akan menjadi sekedar sunyi.

Apa jadinya malam sunyi bagi si penggila kopi?
Tentu kelak ia mengubahnya jadi secangkir puisi.

Selamat menikmati.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 104 other followers