Posted by

Pagi itu di Ruang Radiologi

IBU. Aku menyebut namamu berulang kali hingga pilu sekujur hatiku, sementara tangan ini tak lagi menghangat. Dingin oleh cemas dari ragu, kalau-kalau bibir ini kelu, tak lagi mampu menyebut namamu dalam doa sebelum tidur sekeluarnya aku dari ruangan ini. Apakah engkau bisa mendengarnya?

Pagi ini, ihwal yang sempat kusiratkan dulu pada sepucuk surat setahun lalu menjadi kian jelas. Sungguh, aku tak pernah benar-benar menyiapkan diri ketika saat ini waktu telah mulai diperlihatkan keberadaannya. Aku menggigil takut, ketika detik yang berdetak perlahan, menjelma sebagai ritme yang menjadi penakar berapa lagi waktuku tersisa.

Tak lama setelahnya, dokter tiba membawa kabar yang sedari awal sudah bisa kuterka. Kabar buruk. Berita yang sangat jelas tak pernah ingin kudengar. Ah, mungkin semestinya aku berbaring saja di rumah, menyebut lirih namamu seiring waktu, sampai aku bisa membiasakan diri pada sakit ini. Dan kabar buruk itu tak menambah tumpuk kecemasan. Menghantu bagai teror.

Ibu, bukankah seharusnya kita melewatkan masa-masa seperti ini bersama?

Engkau tahu, ibu? Mungkin sisa waktu yang ada, terlalu singkat bagi langkah ini untuk sampai mengejarmu, bahkan untuk sekedar menyebut namamu saja. Pagi ini, aku harus mulai belajar merelakan apa-apa saja yang saat ini ada di pelukanku. Barangkali juga itu berarti, aku harus merelakan engkau selama-lamanya.

Cepat atau lambat, ibu. Hidup ini pasti akan segera usai oleh musababnya sendiri-sendiri. Entah itu diakhiri pada saat-saat yang tak pernah diduga, atau pada saat yang telah bisa dikira-kira. Serupa ceritaku.

Mungkin Tuhan sengaja membuat alur kisahku seperti ini, menghentikan detak jantungku perlahan, meluruhkan ginjalku pelan-pelan, supaya aku tak lagi letih mencari dan mengejar lembut tanganmu. Supaya aku duduk manis saja menantimu tiba di pekarangan-Nya.

Pada Mulanya Ialah Darah Seorang Kelasi

Pada mulanya ialah darah seorang kelasi
mati sia-sia di tangan anak jenderal polisi
lalu hukum seketika gelap
menjadi tak tahu siapa yang harus ditangkap

Pada mulanya ialah hati nurani
hilang percuma oleh budak-budak arogansi
lalu nyawa demi nyawa perlahan berjatuhan
seolah harga untuk mempertanyakan sebuah kebenaran

Duhai engkau, sang peninggi dan penegak hukum.
geram, terkam, jangan diam!
sebab nyawa manusia bukan mainan.
sebab seburuk-buruknya kejahatan, ialah mereka yang menyembunyikan kebenaran.

 

 

* dalam catatan ini : Alm. Kelasi Arifin, terbunuh saat melindungi sopir truk oleh sekelompok Genk Motor yang hendak mengosongkan jalan untuk balapan liar.

Link terkait :  http://kask.us/13976652

SARAS

Engkau selalu tak pernah henti merimbuni curiga di tepian malamku. Keruh di ujung pandangku tatkala sepimu menyalami. Usiaku kikis oleh pertanyaan-pertanyaan, gerangan apa di balik puisi wajahmu?

Aku menduga engkau tersusun dari rindu, pulang dan selimut hangat. Wajahmu mengatakan itu acap kali senja membawakannya lewat sekawanan cumulus, dan lalu. Segalanya yang tampak hanyalah jalan yang menujumu.

Aku tahu selekasnya pagi, akan lantas menyadarkan akal sehatku dari harum serangkai bunga tidur ini. Karena engkau teramat sempurna jika kusandingkan pada dunia yang sebenarnya.

Aku tahu esok, hidup akan kembali seperti sedia kala. Sama seperti ketika kujelajahi kata, dari puisi ke puisi. Sama seperti sewaktu kutelusuri hati, dari ragu ke ragu. Tetapi pada akhirnya aku menetap di dalamnya.

Kepadamu, aku akan selalu percaya engkau, sebagai. Sesuatu yang tersusun dari rindu, pulang dan selimut hangat. Karena wajahmu selalu mengatakannya.

Temui Aku

Temui aku, RIN. Sesaat sekali saja. Aku rindu alis matamu. Untai cantik yang tak sempat kuhampiri lewat jemari. Aku hendak menjemput keluh-kesahmu. Bicara tergesamu. Suara lembut ibu yang menenangkan begitu saja. Telingaku sepi dari ketiadaannya.

Selimuti aku selekasnya. Hangat, sesamar laut sore. Biarkan aku melupa pada terik dunia, di sisimu. Biarkan usiaku terbuang percuma pada kasihmu.

Atau beri saja satu isyarat kepadaku. Selagi rindu masih bisa kucerna. Supaya aku segera lantas melupa pada segalanya. Pada pintu yang hendak kutuju.

Jika engkau tak pernah lagi kembali.

@pramoeditya

Untuk Yang Terakhir Kali

BUNDA di pangkuanmu kelak, sebenarnya. Aku hendak kembali. Menjemput ceritamu. Dongeng-dongeng masa kecil yang menuntunku pada lelap. Atau sekedar berdiam pada belai jemarimu saja.

Belasan tahun lewat. Namun aku masih bisa merasakan engkau hendak memelukku lagi dan lagi, seperti kala engkau mengajariku bernyanyi pertama kali. Sementara aku tak lagi mengizinkannya.

Ceritakan lagi perihal dongeng-dongeng masa kecil itu. Tentang kancil dan mentimun yang bukan miliknya. Juga tentang katak yang menyeberang sungai lewat punggung kura-kura. Atau Dewi Padi yang bersedih kalau kita tak mengahabiskan sisa nasi di piring makan.

Hari ini, Bunda. Tak pernah seorang pun tahu, hatiku sesak oleh isak karena mengingatmu. Daya yang perlahan lumpuh. Menahan rindu yang selama ini coba kututupi.

Mungkin engkau tak lagi ingin menyertakanku dalam tiap rencana dan doa-doamu selanjutnya.

Mungkin engkau tak lagi ingin mengenalku sebagai sosok yang pernah engkau besarkan. Engkau beradakan.

Aku memahaminya.

Tetapi sungguh. Di pangkuanmu kelak, sebenarnya. Aku hendak kembali. Menikmati detil wajahmu satu kali saja. Meski,

Untuk yang terakhir kalinya.

*SELASA

SELASA di awal Maret. Masih di perjalanan yang sama, tujuan yang sama. Dan engkau tetap sebagai sosok yang sama. Selasa yang penuh tanya.

Dunia berubah setitik-setitik. Sedetik-sedetik. Dan kita mengamatinya berdua. Memahami maksudnya sepetik-sepetik.

Kelak akan tiba engkau, sebagai sosok yang tak lagi sama. Datar. Terlalu mudah untuk diterka. Dikira.

Tetapi aku selalu menanti pagimu. Pagi yang sekar. Bermekar. Karena engkau adalah; *

VIOLETA

VIOLETA engkau permata di pekarangan semusim, yang menjaga titik-titik embun tetap bening sampai jatuh ke tanah.

Di kelopakmu sore ini, ada bias matahari yang menjelma pelangi kecil lalu, sekawanan capung bergumul di sekitarnya.

Aku melihat warnamu. Ungu. Seperti siluet cahaya yang tak dimiliki bebungaan lain. Cuma satu engkau.

Sesekali aku tergoda memetikmu, menikmati indah pada gerak gemulaimu di atas satu tangkai untukku saja.

Tetapi engkau terus saja melirikku, seolah memberiku isyarat; “Engkau cukup menjadi katak, yang memanggil hujan saja…”

TAKSI

TAKSI. Pada dingin kabinmu yang malu-malu itu, engkau pernah menahan tawa, ketika sekeping hatiku tergetar oleh satu wanita.

Ia pencuri terbesar perhatianku, yang melekatkan wajahnya pada tiap-tiap jendelamu, taksi yang kutumpangi.

Aku tergila-gila bola matanya. Dan senyumnya, terlalu memukau untuk sekedar disebut cantik, terlebih bidadari.

Ada satu petik kalimat yang tak sempat kutanyakan ketika kubukakan pintu untuknya terakhir kali; “Kapan aku bisa menjumpaimu lagi?”

TAKSI. Di biru-putih-kuning warna-warnimu. Selalu tampak kekal menyimpan wajahnya, di perjalananku.

SORE

SORE. Aku selalu ingin tahu di mana engkau menepi. Sebab barangkali, aku mungkin menepi bersamamu.

Aku ingin tahu rasanya, menetap pada satu sisi waktu saja, tak beranjak seiring datang-pergi matahari.

Aku ingin menerjemahkan, keadaan yang senantiasa tak bisa kuterjemahkan, sebab waktu urung berhenti.

Bukankah tak mengapa jika kuabaikan segalanya, dan berdiam pada pelukmu saja?

SORE. Aku selalu ingin tahu di mana engkau menepi. Sebab barangkali, engkau lah tepi yang sebenarnya kucari itu.

 

#Timeline

Selamat malam @kiksyeah
Rasanya baru kemarin kita masih bergurau soal,
foto-foto #alay sang #pangerangalau @deptasatria
Lalu dalam sekejap,
Tuhan menarik jarak panjang dari titik di mana terakhir kali kita minum #kopi.

Bagaimana #Bali di matamu, kawan?
Seorang gadis ber-alias @doramimidori pernah menggelitik penasaranku
Langit di sana sungguh indah, katanya
Benarkah begitu?

Ah, bukankah tak ada yang lebih indah
Selain langit-langit segitiga dari
celana dalam turis perempuan? #eaaaa

#FYI Gadis itu sekarang sudah bahagia bersama pujaan hatinya @beruangkutub / @ondelondelsawah

Tentu saja gadis yang kumaksud ialah gadis sebenarnya
Bukan gadis seperti @utteku yang kurang hormon kewanitaan
Atau seperti @megahsaragih yang kurang satu syarat lagi untuk ikut #MISSINDONESIA

Aku kehilangan terlalu banyak cerita
di kota yang sempat kau tinggalkan ini
Syukurlah imanku masih terlampau kuat
Tak tergerak untuk sekedar menuliskan status :
“Sepi dalam sendiri…”
“Hampa…”
atau bahkan
“Dya mikirin w gag eaa….?”

Betul, kawan.
Hari-hariku sempat semenakutkan kalimat-kalimat itu
Kalau bukan karena tuntunan dari @mamahdedeh setiap pagi
Mungkin aku sudah kembali bersama kaum-ku #cowokcowokKW pimpinan @TomTjok

Sepertinya memang aku tak bisa terpisah jauh darimu, kawan
Tanpa engkau, tak ada #stensilmini lagi di kepalaku

Aku rindu celotehan-celotehan kita dulu
Percakapan yang #FaktanyaAdalah diam-diam diikuti banyak perempuan di luar sana
yang ingin tahu bagaimana rasanya digagahi. *nyengir*

Ayo kita nge-tweet lagi, kawan!
Mari kita mencelotehkan yang baik-baik
Membicarakan yang berguna-guna #kayanyagausahdiulangdeh
Kita tunjukkan kepada para feminis ketus itu
“Lebih baik cabul, tapi apa adanya. Daripada sopan, tapi ada apanya.”
Kita teriakkan kepada khalayak, bahwa
“Tanpa wanita, pria masih bisa hidup asalkan ada sabun mandi.”
Dan yang paling penting;
RT itu RETWEET, bukan REPLY TO *sengaja di-kapital biar anak-anak alay pada baca*
Karena TWITTER itu MIKROBLOGGING, bukan tempat CHATTING.

Semoga kasih sayang Tuhan selalu menyertai kita, kawan!
Dan semoga persahabatan kita jadi Trending Topic sampai ke anak cucu kita kelak.

Salam,

@pramoeditya

Sepagi Katamu

Tiada yang lebih bisa memutar waktu menjadi lebih cepat, kecuali engkau tengah menyia-nyiakannya. Dan bukankah itu yang sekarang terjadi, sayang? Kita terlalu sibuk mengandaikan segalanya, sementara banyak hal menjadi luput karenanya.

Kita – kau dan aku. Ialah rangkai puisi yang coba kita selesaikan sepetik demi sepetik. Sesekali kita akan bertemu pada titik dan koma yang sama. Pertanda yang mungkin tidak kita inginkan. Tetapi tak pernah ada cerita yang sama bahkan dalam satu bait pun. Karena hidup sudah menyediakan alurnya sendiri-sendiri. Kita bebas memilih dan menelusurinya di mana hati kita tergerak untuk berhenti.

Hidup ini tak sepagi katamu, sayang. Tak sedini yang kau simpulkan. Yang membuatmu bersedih sekarang, ialah keping-keping yang kelak membuatmu menjadi lebih tegar. Menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Tak satu orang pun mau memilih duka ketika ada suka. Tetapi bukankah suka tidak datang dengan sendirinya?

Bahagia itu diraih, duka dan luka hanyalah harga yang mesti kita tunaikan untuk menebusnya. Tetaplah di sampingku, sayang. Hidup ini indah bila kita mau belajar mensyukurinya.

Sepetik Soremu

Masih selalu lekat ruang di baju kemejaku, tempat bergelayut wangi parfum milikmu yang kupinta sore itu. Aroma yang belakangan tinggal sebagai pengganti keberadaanmu, yang tak tahu harus kucari ke mana.

Deru skuter merahku, selalu tak sabar menanti derap dari langkahmu yang menghampiri. Kita selalu tak pernah punya tujuan, cuma jalan demi jalan saja yang berusaha kita lalui. Karena memang perjalanan itulah tujuan kita. Sebab di sana, kita selalu saja bisa menghindar dari dunia yng sebenarnya.

Jingga di bibirmu sore itu, ialah terang satu-satunya yang ingin terus kuikuti. Terang yang boleh jadi kau isyaratkan sebagai sepetik lembayung di langit Bali. Hingga pada akhirnya letihku tiba, dan malam mulai memipihkan segalanya dari kepalaku.

Sore itu di pekaranganmu. Langit dan seisinya tak sekedar ada sebagai latar pertemuan kita. Pilu yang tak sanggup kau sembunyikan itu pada akhirnya, akan senantiasa terekam jelas oleh ribuan mata mereka. Hingga saat engkau telah tak benar-benar kembali sekarang, aku masih bisa merasakan pilu itu, perih itu. Luka yang terus saja berjatuhan sebagai hujan di sore ini. Sore yang mulai menua, jengah kau tinggalkan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 104 other followers