IBU. Aku menyebut namamu berulang kali hingga pilu sekujur hatiku, sementara tangan ini tak lagi menghangat. Dingin oleh cemas dari ragu, kalau-kalau bibir ini kelu, tak lagi mampu menyebut namamu dalam doa sebelum tidur sekeluarnya aku dari ruangan ini. Apakah engkau bisa mendengarnya?
Pagi ini, ihwal yang sempat kusiratkan dulu pada sepucuk surat setahun lalu menjadi kian jelas. Sungguh, aku tak pernah benar-benar menyiapkan diri ketika saat ini waktu telah mulai diperlihatkan keberadaannya. Aku menggigil takut, ketika detik yang berdetak perlahan, menjelma sebagai ritme yang menjadi penakar berapa lagi waktuku tersisa.
Tak lama setelahnya, dokter tiba membawa kabar yang sedari awal sudah bisa kuterka. Kabar buruk. Berita yang sangat jelas tak pernah ingin kudengar. Ah, mungkin semestinya aku berbaring saja di rumah, menyebut lirih namamu seiring waktu, sampai aku bisa membiasakan diri pada sakit ini. Dan kabar buruk itu tak menambah tumpuk kecemasan. Menghantu bagai teror.
Ibu, bukankah seharusnya kita melewatkan masa-masa seperti ini bersama?
Engkau tahu, ibu? Mungkin sisa waktu yang ada, terlalu singkat bagi langkah ini untuk sampai mengejarmu, bahkan untuk sekedar menyebut namamu saja. Pagi ini, aku harus mulai belajar merelakan apa-apa saja yang saat ini ada di pelukanku. Barangkali juga itu berarti, aku harus merelakan engkau selama-lamanya.
Cepat atau lambat, ibu. Hidup ini pasti akan segera usai oleh musababnya sendiri-sendiri. Entah itu diakhiri pada saat-saat yang tak pernah diduga, atau pada saat yang telah bisa dikira-kira. Serupa ceritaku.
Mungkin Tuhan sengaja membuat alur kisahku seperti ini, menghentikan detak jantungku perlahan, meluruhkan ginjalku pelan-pelan, supaya aku tak lagi letih mencari dan mengejar lembut tanganmu. Supaya aku duduk manis saja menantimu tiba di pekarangan-Nya.