Bertukar cerita dengan ibunda, ibarat secangkir teh di sore hari, ialah kemewahan kecil dalam hidup, yang senantiasa bisa kita jangkaui. Kepadanya lah cinta yang pertama kali kita mengerti, rela kita beri. Di hadapnya lah pertama kali kita ingin berlindung dari ketidak pastian. Rumah pertama kali yang selalu kita ingat untuk kembali. Jalan yang tak pernah lelah kita telusuri.
Kepada engkau yang tersesat sampai ke sini, sampaikanlah kepada bundaku, bahwasannya soreku telah lama tiada. Dan kemewahan kecil telah menjelma jadi semesta yang tak bisa lagi kujangkau. Tetapi aku masih menyimpan ceritaku untuknya. Cerita yang selalu saja ingin kutukar dengan ceritanya.
Namun tak bisa.
Advertisement