Bagi penikmat musik pada umumnya, lagu-lagu yang diciptakan Ariel mungkin terdengar tak ubahnya seperti lagu-lagu lain sejenis, yang kebanyakan hanya mengedepankan aspek komersil supaya laku di pasaran. Tetapi tidak demikian bagi para pemerhati musik, khususnya pecinta lagu-lagu Peterpan sejati. Lagu-lagu Ariel jelas memiliki ‘kelas’ tersendiri yang membuatnya berbeda dengan lagu-lagu kebanyakan. Termasuk bagi saya pribadi, lagu-lagu Ariel selalu berhasil menggelitik benak saya untuk segera mengupas dan menelusuri sesuatu yang boleh jadi tengah berusaha disampaikan Ariel secara tersirat. Terus terang bagi saya, terlalu banyak kebetulan dalam lagu-lagu Ariel yang entah sengaja atau tidak, selalu kait-mengait dengan kehidupan pribadi serta sosok Ariel secara personal.
Bukan tanpa alasan jika saya mengutip salah satu lagu terbaik Ariel, lalu sedikit mengubahnya untuk kemudian dijadikan sebagai judul catatan ini, sebab bukan satu atau dua kali saja Ariel mencoba menyisipkan cerita-cerita yang seolah-olah menggambarkan keadaan di masa lalunya itu ke dalam tiap lagu. Tercatat saya menemukan banyak sekali peristiwa ‘besar’ dalam lagu-lagu Ariel seperti kehilangan, terabaikan, luka, sampai kepada penantian kosong yang berakar di masa lalu. Saya akan mengulas sedikit mengenai lagu-lagu yang Ariel ciptakan, sampai cerita yang ada di baliknya.
Ada semacam keletihan batin yang coba diteriakkan Ariel dalam salah satu lagunya yang berjudul ‘Hari Yang Cerah’, semacam beban yang teramat berat, di mana Ariel sampai berseru berulang kali untuk mencoba bertahan, namun seolah tak bisa, atau bahkan keadaan sudah sebegitu mustahilnya untuk sekedar bisa beristirahat sejenak, terlebih dikompromikan. Letih ini sebetulnya telah lebih dulu disuarakan lewat lagu Langit Tak Mendengar, letih yang lahir oleh perasaan sepi yang tak terobati, hingga kemudian tak ada satu pun yang bisa memahami. Entah sesuai atau tidak, tetapi jika kita menarik ke satu benang merah. Sepi dan letih ini seolah terangkai menjadi satu dengan kisah cinta yang sangat tidak mengenakkan. Kita bisa merasakan dengan jelas kekecewaan besar dalam lagu ‘Mungkin Nanti’ yang begitu emosional, sarat dengan luka yang berujung pada amarah yang sulit diredakan. Sampai pada akhirnya kekecewaan ini berujung pada lagu ‘Menghapus Jejakmu’, yang seolah menegaskan jengah dan kepenatan Ariel terhadap keadaan.
Ariel memang sangat piawai menyisipi ruh dalam setiap lagu-lagunya, hingga tak sedikit lagu yang diciptakannya seolah memiliki ‘nyawa’-nya sendiri. Nyawa inilah yang menuntun kita menjadi larut dalam kisah-kisah pilu yang coba diceritakan Ariel. Di lagu ‘Kukatakan dengan Indah’, Ariel membius kita semua (khususnya saya) ke dalam ironi cinta yang dipermainkan. Perasaan yang menurut saya terlalu sulit untuk diungkapkan ke dalam sebuah lagu, namun Ariel berhasil menyampaikannya dengan kesan yang membekas, tidak cengeng atau bahkan cupu. Lagu inilah yang menurut saya menjadi ‘klimaks’ di antara rangkaian lagu-lagu ironi cinta Ariel yang menyayat-nyayat.
Bagi saya, lagu-lagu Ariel terlalu semarak oleh sepi dan kesenyapan, sesak oleh kekosongan. Karenanya saya selalu meyakini bahwa sosok Ariel tidaklah se-flamboyan yang sering digambarkan oleh banyak media. Orang mungkin akan dengan mudah menuduh Ariel senang mempermainkan wanita, perpisahannya dengan Sarah Amalia (mantan isteri Ariel) misalnya. Orang dengan lantas menghakimi Ariel menikahi Sarah saat itu karena perasaan terpaksa oleh tekanan dan keadaan. Tetapi jika kita menengok kembali di ujung perpisahan keduanya, Ariel menyampaikan salam terakhir kali bagi mantan isterinya itu lewat lagu yang begitu menyejukkan berjudul ‘Walau Habis Terang’, lagu ini berisikan kata maaf, puji serta rasa terima kasih Ariel terhadap Sarah yang tak pernah letih memberinya banyak kesempatan kedua. Ya, sebuah akhir yang mengharukan sekaligus menyakitkan, bahkan bagi Ariel sendiri. Itulah mengapa di mata saya Ariel selalu tampak seperti orang yang tengah mencari-cari sesuatu yang kelak bisa mengobati sepi di hatinya, atau meminjam istilah Letto, Ariel mungkin tengah berupaya keras mencari sesuatu dan bahkan seseorang yang kelak bisa mengisi Lubang di Hatinya. Meski dalam hal ini, Ariel terkesan mudah berpindah ke lain hati, dari satu wanita ke wanita yang lain. Tetapi bukan hak kita untuk menyimpulkan orang lain. Seperti yang dikatakan Ariel, “Biarlah seleksi Tuhan bekerja dalam hati setiap manusia.”
Terakhir, saya sangat tertarik dengan lagu yang beberapa waktu lalu diciptakan Ariel di dalam penjara. Lagu berjudul ‘Dara’ yang konon disebut-sebut diciptakan khusus bagi kekasih Ariel, Luna Maya, seolah terdengar begitu asing dari lagu-lagu Ariel sebelumnya. Bukan karena perbedaan warna musik, tetapi karena tak biasanya Ariel menyebut terang-terangan sosok yang ada dalam tiap lagu-lagunya. Ya, dalam lagu ini, dengan jelas Ariel menyebut ‘Maya’ (nama belakang Luna) sebagai kata pertama yang dipilih dalam lirik lagunya, padahal bagi setiap penikmat syair pun tahu, kata pertama yang bermakna nama seseorang di dalam sebuah syair adalah kata yang paling diistimewakan penulis dalam keseluruhan syair itu sendiri. Benarkah Luna sudah memiliki tempat yang istimewa di hati Ariel seperti yang coba ia kesankan dalam lagu ‘Dara’ itu? Mungkinkah benar bahwa Luna ialah jawaban dari seluruh pencarian Ariel selama ini? Ataukah justru Luna hanya merupakan satu dari sekian banyak nama yang menjadi rangkaian kekeliruan Ariel, karena sesungguhnya Ariel masih senantiasa menanti dan mengharap kembalinya sosok penting yang tertuang dalam lagu ‘Yang Terdalam’?
Ariel akan memberi jawabannya pada kita di lagu-lagu berikutnya.

Kereen abez