Ada yang salah dari mimik-gelagatmu, semenjak
pemerintah mengumumkan Idul Fitri harus ditunda satu hari lagi
sore itu, langit Jakarta bak pindah semalaman di wajahmu
masam pada bibirmu.
Aku tahu, opor ayam dan ketupat yang kau tanak seharian
akan mulai bau dan meng-asam di hari yang ketiga
Aku tahu, kue-kue lebaran yang sejak kemarin mati-matian kau hias
akan lekas habis dicemili olehku sebagai teman minum kopi.
Katamu, repot jadinya bila begini
lanjutmu, tak semangat rasanya bila harus berpuasa satu hari lagi
mengapa tanggal 30 buru-buru dicetak merah kalau Idul Fitri belum pasti?
mengapa kita tak ikut aliran lain saja supaya lebaran bisa digelar hari ini?
Tetapi kukatakan untukmu, sayang
tak akan sia-sia bila kita bersabar sedikit lagi saja
mungkin Tuhan tengah ingin menegur kita
tak suka hari suci-Nya disalah artikan sebagai ajang rutin seremonial
serta momentum berfoya-foya dari sudut mal ke mal lain.
Aku akan membangunkanmu sahur nanti malam,
sebagai ganti suara takbir yang kian tenggelam oleh acara televisi
Dan ketupat yang terlanjur ada di meja makan kita itu,
biar aku yang menyuapinya ke bibirmu di saat berbuka puasa nanti.