Gramineae, aku tiba lebih dulu di sebuah kedai kopi yang sudah kita rencanakan pertemuan kita. Di sini, pekat secangkir kopi jadi dua kali lebih menantang. Sebab kopi disajikan panas selepas kita menempuh tiga jam perjalanan dari kereta api yang telah kita tumpangi. Dan dari sini, waktu menjadi lebih mudah dikesampingkan. Karena hampir lima menit sekali, selalu ada lokomotif tua yang langsir ke sana ke mari.
Kapan keretamu tiba? Petang sudah kian menipis oleh temaram lampu-lampu kota. Selepas dari sini, kita mesti bergegas menuju hotel yang belum sama sekali kita pesan kamarnya. Aku tak ingin mengambil resiko bila harus se-kamar denganmu. Sebab kita bisa saja terpejam dan saling membuang muka, tetapi selimut pada ranjang yang kita tempati itu belum tentu mau diajak kompromi berpihak kepada siapa. Dan kita bisa saja berdalih bahwa kebersamaan kita hanyalah kebersamaan pertemanan, yang sengaja dipertemukan Tuhan untuk saling menjaga satu dengan lainnya. Tetapi bukankah AC pada kamar hotel itu selalu lebih dingin dari hangat persahabatan kita?
Ah, Gramineae. Selalu saja ada rindu yang tak bisa kuabaikan dari hati ini. Mungkin sedari awal, semestinya kita tidak berangkat dalam keterpisahan yang demikian. Mungkin seharusnya, aku tak tergesa meninggalkanmu, kau tak terburu menjauhiku. Sebab pada kenyataannya sekarang, aku kian hilang karenamu. Sunyi dalam tiadamu. Sementara sudah cangkir kesekian kuhabiskan kopi dalam menantimu, tak satupun panggilan pada ponselmu bisa kudapatkan jawaban. Kosong.
Kau pasti datang ‘kan?
* Bandung, setahun yang akan datang.