: kepada P.L.
Putri,
Di perkuliahan mana bisa kutemui bahasan yang memaksaku berlutut,
menyerah pada soal psikologi yang tak seberapa,
kecuali pada kelasmu?
Engkau-lah langka sebenarnya
yang lekat selamanya dalam pikiranku.
Kau pelintir keadaan,
hingga pada suatu titik
aku terikat simpul pada tatap matamu.
Kau pencipta jeram
yang menantang nyaliku
supaya lulus dalam ujian-ujianmu.
Aku terlahir sebagai mahasiswa malas
tak pernah ingat kapan harus mengumpulkan tugas
tetapi di kelasmu yang terlalu sebentar itu,
kutemukan secangkir kopi yang menjaga mataku untuk senantiasa mengikutinya.
Putri,
Sekalipun waktu tak menyisakan lagi SKS bagi kita untuk bertemu lagi
sesungguhnya aku selalu berada di kelas-kelasmu
terselip pada tumpukan daftar nilaimu
terdata sebagai mahasiswa abadimu.