Masih selalu lekat ruang di baju kemejaku, tempat bergelayut wangi parfum milikmu yang kupinta sore itu. Aroma yang belakangan tinggal sebagai pengganti keberadaanmu, yang tak tahu harus kucari ke mana.
Deru skuter merahku, selalu tak sabar menanti derap dari langkahmu yang menghampiri. Kita selalu tak pernah punya tujuan, cuma jalan demi jalan saja yang berusaha kita lalui. Karena memang perjalanan itulah tujuan kita. Sebab di sana, kita selalu saja bisa menghindar dari dunia yng sebenarnya.
Jingga di bibirmu sore itu, ialah terang satu-satunya yang ingin terus kuikuti. Terang yang boleh jadi kau isyaratkan sebagai sepetik lembayung di langit Bali. Hingga pada akhirnya letihku tiba, dan malam mulai memipihkan segalanya dari kepalaku.
Sore itu di pekaranganmu. Langit dan seisinya tak sekedar ada sebagai latar pertemuan kita. Pilu yang tak sanggup kau sembunyikan itu pada akhirnya, akan senantiasa terekam jelas oleh ribuan mata mereka. Hingga saat engkau telah tak benar-benar kembali sekarang, aku masih bisa merasakan pilu itu, perih itu. Luka yang terus saja berjatuhan sebagai hujan di sore ini. Sore yang mulai menua, jengah kau tinggalkan.

