Tiada yang lebih bisa memutar waktu menjadi lebih cepat, kecuali engkau tengah menyia-nyiakannya. Dan bukankah itu yang sekarang terjadi, sayang? Kita terlalu sibuk mengandaikan segalanya, sementara banyak hal menjadi luput karenanya.
Kita – kau dan aku. Ialah rangkai puisi yang coba kita selesaikan sepetik demi sepetik. Sesekali kita akan bertemu pada titik dan koma yang sama. Pertanda yang mungkin tidak kita inginkan. Tetapi tak pernah ada cerita yang sama bahkan dalam satu bait pun. Karena hidup sudah menyediakan alurnya sendiri-sendiri. Kita bebas memilih dan menelusurinya di mana hati kita tergerak untuk berhenti.
Hidup ini tak sepagi katamu, sayang. Tak sedini yang kau simpulkan. Yang membuatmu bersedih sekarang, ialah keping-keping yang kelak membuatmu menjadi lebih tegar. Menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Tak satu orang pun mau memilih duka ketika ada suka. Tetapi bukankah suka tidak datang dengan sendirinya?
Bahagia itu diraih, duka dan luka hanyalah harga yang mesti kita tunaikan untuk menebusnya. Tetaplah di sampingku, sayang. Hidup ini indah bila kita mau belajar mensyukurinya.

